Malam yang asing, dengan
setiap detail kehidupan menggelayut manja di pikiran. Tentang
kemunafikan-munafikan kehidupan, tentang drama-drama yang kadang tidak sesuai
di lakonkan sang pemeran, tidak pantas. Tentang tangisan yang pada kenyataannya
tersirat jelas kebahagian. Belum lagi tentang setiap keresahan yang
disembunyikan dibalik topeng, “topeng tampang baik-baik saja”. Terlalu banyak topeng.
Beragam cara dilakoni
manusia untuk tetap bertahan di dunia yang kejam, kejam karena mungkin
dirasakannya tidak ada keadilan, kejam karena baginya perputaran waktu yang
begitu cepat sehingga ia terlempar dari kotak bahagianya, entahlah. Dunia itu
kejam, entah terkadang, atau selalu kejam?
Aku tidak paham.
Ada yang bertindak begitu
bodoh demi mendapatkan penilaian “baik ” di mata orang lain. Apa orang yang
baik selalu dekat dengan tindakan bodoh?. Ada yang angkuh, sok tegar, sok
segalanya, demi menutupi setiap kekurangannya. Realita yang tak asing lagi
bukan? Ada yang hobbynya cari-cari
perhatian dengan cara bertindak sangat lebay, atau bertindak sangat cuek.
Manusia itu banyak ragamnya.
Ada juga jenis manusia
yang rela tidak menjadi dirinya sendiri hanya demi penilaian dari mulut-mulut
orang yang sebenarnya belum tentu bisa dipercaya. Ada lagi yang tidak pernah mendengarkan
penilaian dari orang lain. Ada yang hidup dalam pujian, ada yang terperuk dalam
cacian. Semua orang punya pikiran masing-masing, jalan hidupnya masing-masing.
Jalan kemunafikannya masing-masing, jalan yang menurutnya itu yang terbaik.
Karena semua masing-masing, semua jadi beragam, semua jadi berbeda, dan menyikapi perbedaan hanya dengan cara
saling memahami, memahami kemunafikannya mungkin.
Aku bukan jenis manusia sempurna. Ralat, karena
tidak ada yang sempurna. Aku hanya manusia dari jenis biasa. Ralat lagi, aku
hanya jenis manusia di bawah garis biasa dengan cara pandang yang biasa. Gak
ada yang special menurutku.
“Semua
orang di dunia ini special” -
dengan
kata lain,
“tidak
ada yang special”. Aku mengartikannya begitu. Gak ada ukuran untuk menentukan
special atau ngganya seseorang. Manusia ga punya alat ukur untuk itu, semua
sama-sama ciptaan Tuhan dan untuk apa mengagung-agungkan atau merendahkan yang
pada hakikatnya sama-sama captain Tuhan? Ga penting kan ya, toh semua Cuma beda
di nasib dan takdir. Menghargai diri sendiri itu jauh lebih baik, menurutku.
Aku manusia di bawah
garis biasa, pernah munafik, pernah baik, pernah salah, pernah benar, pernah
jujur, pernah dusta, pernah angkuh, pernah merendah. Mungkin lebig banyak
melakukan hal-hal yang tidak disukai orang lain daripada melakukan hal-hal yang
menyenangkan orang lain.
Aku berlakon sesuai dengan keadaan saat itu.
Mungkin salah, mungkin benar. Kembali pada penilain orang lain, lagi kan? Ah,
sudahlah.
Aku malah senang dengan
ragam manusia di bumi ini, lebih berwarna, lebih berbeda, dan lebih
menyenangkan ketimbang sama yang akhirnya menjemukan.
Hidup cuma proses, waktu cuma tolak ukur untuk kematangan berpikir dan
bersikap, usia cuma angka sudah bernafas selama apa di bumi ini.
Source: http://www.amronbadriza.com/2012/10/cara-membuat-anti-copy-paste-di-blog.html#ixzz2Gv3QtmBI



2 komentar :
Nice :)
thankyou :)
Posting Komentar